Sumatra Barat (Minangkabau)

OLEH-OLEH JALAN-JALAN KE SUMATRA BARAT (MINANGKABAU):
16 Desember-18 Desember 2006

Informasi Umum Sumatra Barat:
Luas propinsi Sumatra Barat: 42.297 km2.
Jumlah penduduk Sumatra Barat: 4.375.080 jiwa (tahun 2002).

Nenek moyang orang Minangkabau diduga berasal dari daerah Indochina, lalu mereka menyeberangi Selat Malaka dan memasuki Sungai-Sungai Kampar, Siak dan Indragiri dan kemudian menetap di daerah Lima Puluh Koto. Dari sana mereka menyebar ke seluruh daerah Minangkabau.

Mula-mula penduduk asli Minang beragama Buddha, yang diperkenalkan oleh Raja Adityawarman, sehingga perwujudannya dalam bentuk patung juga berupa Buddha Bairawa. Agama Buddha pernah sangat berpengaruh di Sumatra Barat sehingga nama beberapa nagari berbau Buddha atau Jawa, misalnya: Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur dan Selo.

Mulai abad ke-17, agama Islam masuk melalui Aceh karena politik dan perdagangan pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Aceh. Seorang ulama yang pernah menuntut ilmu di Aceh yaitu Syekh Burhanuddin dianggap sebagai penyebar pertama Agama Islam di Sumatra Barat. Namun dominasi Aceh yang begitu kuat membuat masyarakat Minang tidak senang kepada Aceh sehingga rasa tidak senang ini diwujudkan dengan menerima kedatangan orang-orang Belanda. Armada-armada dagang Belanda mulai muncul di pelabuhan-pelabuhan Sumatra Barat sejak tahun 1595.

Sekitar tahun 1820 terjadi perselisihan antara kaum adat dengan kaum Paderi yang menentang perbuatan-perbuatan yang saat itu begitu marak di kalangan masyarakat, misalnya perjudian, sabung ayam, pemakaian opium, minuman keras, tembakau, sirih, dan hukum adat matriarkat mengenai warisan. Belanda memihak kaum adat yang dipimpin Datuk Sati dan terjadi pertempuran besar-besaran melawan Gerakan Paderi yang mula-mula dipimpin Datuk Bandaro, lalu digantikan oleh Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao antara tahun 1821 sampai 1837. Dengan jatuhnya Benteng Bonjol pada tahun 1837, perang dianggap berakhir, namun perlawanan masih terus berlangsung sampai jatuhnya benteng terakhir kaum Paderi di Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai pada tahun 1838.

Berdasarkan Perjanjian Plakat Panjang pada tahun 1833, Belanda berjanji tidak akan mencampuri masalah-masalah adat dan agama di Minangkabau, termasuk tidak akan memungut pajak secara langsung sehingga para pemimpin Minangkabau memandang Belanda lebih sebagai mitra, bukan sebagai atasan. Namun rupanya ini harapan yang terlalu muluk karena Belanda akhirnya menerapkan juga aturan tanam paksa (cultuur stelsel) sebagaimana daerah lainnya di Hindia Belanda, sehingga para pemimpin Minangkabau akhirnya hanya menjadi agen penjajah Belanda.

Pada jaman pendudukan Jepang, Sumatra Barat dianggap sangat penting dan strategis sehingga Bukittinggi dijadikan pusat pengendalian pemerintahan militer untuk wilayah Sumatra, Singapura, Malaysia dan Thailand. Untuk mengibarkan semangat rakyat supaya mendukung Jepang dalam Perang Asia Timur Raya maka di sini juga didirikan pemancar radio terbesar di Pulau Sumatra pada saat itu.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Bukittinggi menjadi kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai Juni 1949, Bukittinggi dijadikan ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu, Bukittinggi dijadikan ibukota untuk Provinsi Sumatra dengan gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hassan, dan sejak 1959 dijadikan ibukota Sumatra Tengah yang meliputi Riau, Jambi dan Sumatra Barat.

Setelah Sumatra Tengah dipecah menjadi tiga propinsi yaitu Jambi, Riau dan Sumatra Barat, maka Padang dijadikan ibukota Propinsi Sumatra Barat.

Asal-Usul Nama “Minangkabau.”

Suku bangsa yang berdiam di Sumatra Barat dikenal sebagai orang Minang atau “Minangkabau,” yang sekarang ini tersebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai di Singapura dan Malaysia, membuka usaha rumah makan Padang di mana-mana. Di Malaysia mereka bahkan memiliki satu negara bagian yaitu “Negeri Sembilan” dengan Sultannya sendiri. Antara Negeri Sembilan dan Minangkabau terjalin hubungan yang erat, bahkan Sultan-Sultan Negeri Sembilan dulunya berasal dari Minangkabau.

Minangkabau berasal dari kata “Minang” dan “kabau.” “Kabau” berarti kerbau, sedangkan “minang” berarti menang atau juga berarti taji. Konon pada masa lalu, terjadi peperangan yang berlangsung lama antara negeri Minangkabau melawan salah satu kerajaan besar di Jawa, tanpa ada pihak yang menang atau kalah. Menurut Mohamad Yamin dan M. Sa’id yang mendasarkan pendapatnya pada Prasasti Padang Roco dari tahun 1286 M, suatu ketika kerajaan besar di Jawa yaitu Singasari di bawah Raja Kertanegara, pernah mengirimkan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra, untuk menjalin persekutuan (aliansi) dengan Bhumi Melayu di Swarna Bumi untuk bersama-sama melawan tentara Mongol Kubilai Khan. Ada pula yang mengatakan bahwa kerajaan ini adalah Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada yang berusaha menaklukkan Kerajaan Perca atas titah Raja Majapahit. Menurut versi Kertanegara, untuk merayakan hubungan persahabatan ini, dibuat adu kerbau antara pihak Jawa dan pihak Minang. Versi Majapahit mengatakan bahwa adu kerbau ini diadakan untuk menghindari jatuhnya lebih banyak korban di kedua belah pihak, sehingga diputuskan kerbau siapa yang menang, otomatis pihak itulah yang memenangkan perang tersebut.

Kerbau yang ditampilkan pihak Jawa besar badannya, kuat dan tangguh, namun kerbau pihak Minang adalah anak kerbau yang masih menyusu, yang sudah tidak diberi makan minum selama dua hari sehingga sangat lapar dan haus. Namun pemimpin orang Minang yaitu Patih Sewatang, orang yang cerdik: di kepala anak kerbau ini dipasang taji yang sangat tajam, sehingga ketika kerbau ini dilepas untuk bertanding, dia langsung menuju kerbau Jawa yang disangkanya induknya untuk menyusu. Kerbau Jawa ini akhirnya kalah karena perutnya terburai oleh taji yang ada di kepala anak kerbau yang terus berusaha menemukan puting susu di perut kerbau Jawa untuk menyusu. Dari peristiwa inilah lahir kata “Minangkabau” atau “kerbau yang menang” atau “kerbau dengan taji.”

Menurut Prof. Van der Tuuk, kata “Minangkabau” berasal dari kata “Pinang Khabu” yang artinya “tanah asal.” Pendapat serupa dikemukakan oleh seorang guru besar Universitas Madras yaitu Prof. Dr. Muhammad Hussein Nainar yang berpendapat bahwa kata “Minangkabau” berasal dari kata “Menon Khabu” yang artinya “Tanah Pangkal” atau “Tanah Permai.” Sedangkan menurut Prof. DR. RM Ng. Poerbatjaraka, nama “Minangkabau” berasal dari kata “Minanga Kanwa” atau “Minanga Kembar” yang adalah pertemuan dua sungai besar, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, sesuai isi Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat kata “tamwan” atau “temon” atau “pertemuan” dua sungai ini.

Sebagian besar masyarakat Minang meyakini bahwa nama daerahnya berasal dari Legenda Adu Kerbau ini sebagaimana yang ada dalam Tambo (Sejarah) Pariangan. Lebih-lebih dekat Kota Batusangkar diyakini sisa-sisa peristiwa adu kerbau ini masih bisa kita lihat. Nagari Minangkabau, yang terletak 4 km dari Kota Batusangkar diyakini sebagai tempat dilangsungkannya adu banteng ini. Gelanggang adu bantengnya masih bisa dilihat sampai kini dan dinamakan Parak Bagak atau “kebun berani.” Sawah ke arah mana kerbau yang kalah berlari masih dikenal dengan nama Sawah Siambek.

Sampai kini dapat kita saksikan ada hubungan yang sangat erat antara Suku Minangkabau dengan binatang kerbau ini. Berbagai identitas budaya Minang, misalnya bentuk atap rumah tradisional mereka, yang disebut Rumah Bagonjong atau Rumah Gadang (“gadang” artinya “besar), berbentuk seperti tanduk kerbau. Demikian juga pakaian tradisional wanita Minang disebut Baju Tanduak Kabau. Kerbau banyak membantu para petani dalam mengolah sawah mereka karena dipakai membajak sawah. Para petani tebu mempergunakan kerbau-kerbau ini untuk menggiling tebu mereka sehingga dihasilkan gula merah yang gurih dan berkualitas tinggi. Dengan peralatan sederhana si kerbau diikat pada sebilah bambu yang terhubung dengan peralatan tradisional pemeras tebu, berkeliling selama delapan jam untuk memutar pemeras tebu tersebut. Supaya kerbau tersebut tidak pusing kepalanya, maka matanya ditutup dengan batok kelapa yang berlapis kain.

Hingga kini di pasar-pasar hewan, yang lebih banyak dijual adalah kerbau, bukan sapi. Lagi pula proses jual beli yang terjadi bisa dibilang sangat unik sebab tidak ada pembicaraan antara pembeli dan penjual, yang cukup memakai isyarat jari-jari tangan saja. Adu kerbau masih dilakukan hingga saat ini dan sangat digemari sebagai hiburan. Kerbau yang menang akan naik berlipat-lipat harganya. Menu jamu kuat buat diminumkan pada kerbau yang akan diadu terbuat dari jahe, temulawak, lada, telur bebek, air jeruk nitip, krating daeng dan bir hitam. Jampi-jampi atau mantra dimintakan kepada dukun adu kerbau yang terkenal untuk membantu secara spiritual agar kerbaunya menang. Tanduknya dibuat makin runcing, badannya dilumuri dengan lumpur dan jelaga. Kerbau yang kabur dari arena pertandingan dinyatakan kalah. Untuk menonton adu kerbau ini dipungut karcis masuk sekitar Rp. 3.000 per orang. Ada juga penonton yang suka bertaruh untuk mendapatkan sedikit uang tambahan di keramaian ini.

Contoh Rencana Perjalanan Keliling Sumatra Barat:

Hari Pertama: Denpasar-Jakarta-Padang-Lembah Anai-Padang Panjang-Koto Baru-Bukittinggi:
Perjalanan dari Denpasar ke Jakarta memakan waktu sekitar 90 menit disambung dengan penerbangan Jakarta-Padang selama 90 menit lagi. Biasanya pesawat ke Padang berangkat sekitar 10.30 pagi dan tiba di Bandara Tabing pukul 12.00 siang.
Kita langsung menuju ke pusat kota Padang untuk mengunjungi pusat budaya Minang dan Museum Negeri Adityawarman, di mana kita bisa melihat bangunan-bangunan berarsitektur khas Minang dengan atap tanduk kerbaunya yang unik. Kita juga bisa mengenal benda benda budaya Minang dari setiap kabupaten yaitu pakaian adatnya, rumah khasnya dan lain lain.

Kita juga bisa jalan jalan di jalan raya pantai yang indah, dari mana terlihat pulau-pulau kecil di tengah laut yang membiru. Banyak terdapat warung warung makan di sepanjang pantai dengan hidangan utama udang goreng tusuk. Setelah puas melihat-lihat kota Padang, kita langsung mengunjungi Pantai Desa Air Manis untuk melihat batu-batu bekas perahu dan bekas Malin Kundang, si anak durhaka. Di pinggir pantai di mana ombak laut memecah, terdapat beberapa bongkah batu yang bentuknya menyerupai bangkai kapal yang dikatakan sebagai bekas kapal Malin Kundang yang terbelah dua dan membatu akibat kutukan ibu Malin Kundang, serta batu yang menyerupai orang yang berlutut yang dikatakan sebagai bekas tubuh kapten dan pemilik kapal niaga yang sudah menjadi batu tersebut.

Setelah itu kami menuju ke kota Bukittinggi melalui Lembah Anai yang terkenal dengan air terjunnya yang indah dan menyejukkan. Sepanjang perjalanan ke Bukittinggi pemandangan terlihat begitu indah. Bukit-bukit berselimutkan hutan yang menghijau diselangselingi oleh lembah dan persawahan yang indah terlihat di sepanjang jalan. Sempatkan merendam kaki merasakan sejuknya air terjun Lembah Anai yang indah ini. Kerupuk bayam kami beli sebagai perintang waktu di perjalanan kami.

Sekitar jam 19.00 kami tiba di kota Padang Panjang dan kami berhenti di rumah makan MakSukur untuk membuktikan kelezatan masakan khas Padang Panjang yaitu sate sapi atau sate jeroan dengan bumbu lodok dihidangkan dengan ketupat berbungkus daun pisang. Di Koto Baru dekat Bukittinggi kami berhenti untuk membeli Kue Singgang atau Kue Bika Talago Koto Baru yang enak dimakan hangat-hangat. Kami tiba di hotel Pusako, Bukittinggi, sekitar pukul 20.00 malam.

Hari Kedua: Pandai Sikek-Koto Gadang-Batu Sangkar-Danau Singkarak-Pasar Atas-Jam Gadang-Ngarai Sianok:
Setelah sarapan, kami mengambil taksi untuk menjelajahi daerah di sekitar Bukittinggi. Mula-mula kami meluncur menuju desa para pengrajin kain songket di Pandai Sikek dan desa para pengrajin emas perak di Koto Gadang. Dari sini kami meneruskan perjalanan menuju kota Batusangkar untuk mengunjungi Istana Pagarruyung. Dalam perjalanan pulang kami berhenti di tepi Danau Singkarak, melalui pemandangan persawahan dan perbukitan yang begitu indah. Kami mengunjungi Pasar Atas, Jam Gadang, kemudian menuju pinggiran kota yaitu Taman Panorama dari mana terlihat pemandangan yang menakjubkan ke arah Ngarai Sianok, untuk kemudian kembali ke hotel Pusako.
Sore harinya, kami menyempatkan diri mencoba masakan khas Koto Baru berupa itik pedas. Enak sekali tapi pedas.

Hari Ketiga: Kota Bukittinggi menuju Kota Baturaja, Sumatra Selatan:
Masih banyak daerah Sumatra Barat yang belum kami datangi (sebagai alasan untuk kembali suatu saat nanti), di antaranya: Palupuh, Danau Maninjau. Sore harinya kami naik bus untuk meneruskan perjalanan selama 30 jam melalui Solok, Bungo, Bangko, Lubuk Linggau, Lahat. Muara Enim, Martapura dan Baturaja di Sumatra Selatan.

Nama agen biro perjalanan di Bukit Tinggi, Sumatra Barat:
PT Tigo Balai Tours & Travel,
tour3balai@telkom.net
Jalan Ahmad Yani 100, Bukit Tinggi 26113,
Sumatra Barat
Telpon: (0752) 31996, 627261.
Fax: (0752) 21824.

Hotel Pusako Bukittinggi, Jalan Sukarno-Hatta 7, Bukittinggi 26129
Sumatra Barat – Indonesia.
Telpon: (0752) 32111.
Fax: (0752) 32667.
Email: pusako_hotel@yahoo.co.id?(Standard 500.000, Deluxe 550.000, Executive Deluxe 600.000, Family 1.100.000, Junior 1.500.000, President 3.000.000, Extra Bed 150.000, Breakfast 40.000, Set menu lunch 70.000, Set menu dinner 80.000). No charge for children below 10 years sharing the same room with parents.

Informasi tentang Kota Padang:

Pada tahun 2004 Kota Padang berpenduduk 787.740 jiwa, dengan kepadatan 1.133,5 per kilometre persegi, meliputi daratan dan 19 buah pulau kecil, di antaranya Pulau Sikuai, Pulau Toran, dan Pulau Pisang Gadang. Pada abad ke-14 Kota Padang masih berupa sebuah kampung nelayan, namanya Kampung Batung, bersistem pemerintahan nagari yang dipimpin oleh Penghulu Delapan Suku. Belanda mulai menanamkan pengaruhnya sejak tahun 1667 ketika VOC diwakili oleh Orang Kayo Kaciak diijinkan mendirikan loji pertama di daerah Batang Arau yang dijadikan pelabuhan yang kemudian menjadi awal pertumbuhan Kota Padang. Pelabuhan yang dibangun, dikenal sebagai Pelabuhan Muaro, berfungsi sebagai kota pelabuhan dan kota perdagangan. Akhirnya terjadi perselisihan antara masyarakat melawan Belanda, yang puncaknya terjadi tanggal 7 Agustus 1669, di mana loji-loji Belanda yang ada di Muaro dikuasai masyarakat dan tanggal ini dijadikan hari lahirnya Kota Padang.

Saat ini Kota Padang adalah pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan pendidikan bagi Sumatra Barat. Di kota ini terdapat 61 buah universitas, institut, akademi dan politeknik, empat di antaranya adalah perguruan tinggi negeri, yaitu: Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Politeknik Negeri Padang dan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol. Universitas Andalas yang berdiri tahun 1957 adalah universitas negeri tertua di luar Jawa.

Padang terkenal oleh dongeng Siti Nurbaya dan Malin Kundang. Kuburan Siti Nurbaya dengan jembatan yang juga dinamakan Jembatan Siti Nurbaya ada di Bukit Muara, sedangkan di Air Manis terdapat batu Malin Kundang. Di dalam Kota Padang terdapat Museum Adityawarman yang mengkhususkan diri pada seni budaya Minangkabau dan Mentawai. Kota Padang juga terkenal oleh masakan Padang yang mudah ditemui di semua kota besar di Indonesia. Masakan-masakan khas Padang yang adalah masakan Minang secara umum, di antaranya: gulai, rendang, Karupuak Balado dan Sate Padang.

Informasi tentang Air Manis, Batu Malin Kundang:

Desa ini terletak sekitar 45 menit dari Kota Padang, dipercaya sebagai desa tempat hidup Malin Kundang dengan ibunya pada masa lalu. Alkisah pada jaman dahulu ada seorang janda dengan anaknya tinggal di desa itu. Karena sering digendong ibunya untuk mencari kayu bakar di hutan, anak itu dinamakan Malin Kundang, artinya Malin yang digendong. Setelah besar, Malin merantau ke negeri yang jauh, hingga berhasil menjadi orang kaya dan terkemuka, bahkan memperistri putri raja.

Setelah menjadi orang kaya dan terkemuka, Malin singgah di desa kelahirannya, namun malu mengakui ibunya yang tua, jelek dan miskin, sehingga akhirnya ibunya berdoa semoga Malin Kundang diberikan balasan yang setimpal oleh Tuhan karena durhaka kepada orang tuanya. Dalam perjalanan pulang, kapal dihempas badai dahsyat sehingga kapal terdampar, semua awak kapal dan putri raja tewas, sedangkan Malin Kundang berubah menjadi batu, yang bekas-bekasnya masih bisa kita lihat hingga saat ini di Desa Air Manis.

Informasi tentang Padang Panjang

Padang Panjang sangat terkenal oleh masakan khasnya berupa sate. Di antara berbagai rumah makan yang ternama di kota ini, yang paling terkenal adalah Sate Mak Syukur.
Sate Mak Syukur berdiri pada tahun 1941, saat itu Mak Syukur masih berjualan dengan memikul dagangannya dari Padang Panjang ke Batusangkar. Mak Syukur atau Sutan Rajo Endah, sudah meninggal tahun 1985. “Mak” adalah sebutan untuk laki-laki Minang dewasa. Saat ini anak-anaknya meneruskan usahanya berupa sate berkuah kuning kental yang sangat enak dinikmati di tengah-tengah udara Kota Padang Panjang yang agak dingin. Rumah makan ini buka dari jam 10.00 sampai jam 21.00.

Salah satu putra Mak Syukur, Haji Syafril Syukur, mengelola rumah makan Sate Mak Syukur yang terletak di Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah. Sapi yang dipilih sebagai bahan satenya haruslah sapi yang berasal dari Padang Panjang sendiri, karena rasa dagingnya yang berbeda, mungkin karena faktor makanan yang tersedia melimpah dan udara Padang Panjang yang mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Selain dagingnya, yang dijadikan sate adalah juga ususnya, jantungnya dan lidahnya. Daging yang dijadikan sate adalah daging yang diambil dari rusuk dan punuk sapi, pada bagian ini dagingnya tidak terlalu keras, namun masih mengandung lemak. Irisan daging sapi ini ditusuk dan disusun di sebilah bambu, dipanggang dan dijadikan teman makan katupek atau ketupat. Kuah yang disiram di atas katupek dan sate inilah yang sangat unik rasanya.
Daun pisang segar dipakai alas piring kaleng sehingga memberikan rasa tersendiri dan menambah kelezatan sate ini. Biasanya satu porsi berisi tujuh tusuk sate, dua buah katupek kecil dan satu buah katupek besar. Pelanggan boleh memesan sate daging, usus, lidah ataupun jantung sapi, atau perpaduan semuanya. Sate dengan katupek ini kemudian diguyur dengan kuah kuning kental yang hangat dan lezat. Sebagai teman makan sate dihidangkan juga karupuk Jangek yaitu kerupuk kulit sapi atau kulit kerbau berukuran besar, sekitar 15 sentimeter persegi, yang juga bisa dijadikan sendok kuah. Minuman khas yang sering dipesan untuk menemani sate ini adalah teh telur atau sorbat telur. Sorbat atau jahe membuat tubuh hangat, sedangkan telurnya merupakan sumber energi.

Informasi di Kota Bukittinggi

Kota Bukittinggi dulunya dikenal sebagai Fort de Kock, benteng yang didirikan Belanda pada tahun 1825 yang sekaligus berfungsi sebagai tempat peristirahatan bagi para opsirnya. Kota ini juga dikenal sebagai kota budaya dan kota wisata karena banyaknya obyek wisata yang ada di dalam kota dan di daerah sekitarnya. Kota kelahiran proklamator Drs. Mohammad Hatta ini berhawa sejuk karena terletak di pegunungan di ketinggian 909-941 di atas muka laut, sehingga suhu sepanjang tahun berkisar antara 16-25 derajat Celsius. Di samping sebagai kota budaya dan wisata, Bukittinggi juga menjadi kota perdagangan yaitu sebagai pusat penjualan konveksi di Pasar Aur Kuning. Bukittinggi dikelilingi oleh tiga gunung berapi, yaitu Gunung Marapi, Gunung Sago dan Gunung Singgalang sehingga memiliki pemandangan yang sangat indah.

Pada jaman pendudukan Jepang, Bukittinggi dijadikan pusat pengendalian pemerintahan militer untuk wilayah Sumatra, Singapura, Malaysia dan Thailand. Untuk mengibarkan semangat rakyat supaya mendukung Jepang dalam Perang Asia Timur Raya maka di sini didirikan pemancar radio terbesar di Pulau Sumatra pada saat itu.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Bukittinggi menjadi kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai Juni 1949, Bukittinggi dijadikan ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu, Bukittinggi dijadikan ibukota untuk Provinsi Sumatra dengan gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hassan, dan sejak 1959 dijadikan ibukota Sumatra Tengah yang meliputi Riau, Jambi dan Sumatra Barat.

Informasi tentang Pandai Sikek:

Desa Pandai Sikek terkenal oleh para pengrajin tenunan Songket dan ukir-ukiran kayunya. Kaum wanitanya merupakan penenun penenun songket, bordir dan sulaman yang sangat trampil sedangkan kaum prianya mengukir kayu untuk mencari sesuap nasi. Desa ini terletak 15 menit dari Bukittinggi. Kain songketnya ada tiga macam yaitu yang berbenang satu, berbenang dua dan berbenang tiga. Yang berbenang satu adalah yang paling sulit dibuat sehingga harganya paling mahal. Untuk membuat selendang berbenang satu diperlukan waktu satu bulan. Kain berbenang satu lebih halus dan lentur namun diperlukan ketelitian yang tinggi.

Informasi tentang Koto Gadang

Tidak ada satu desa pun di seluruh Indonesia yang mampu menghasilkan kaum intelektual sebanyak desa atau nagari Koto Gadang, Kecamatan Koto, Kabupaten Agam di Sumatra Barat. Desa Koto Gadang yang berpenduduk hanya 2.339 jiwa ini terletak di puncak Ngarai Sianok, di lereng Gunung Singgalang. Dari desa ini lahir ribuan dokter dan tokoh intelektual lain, termasuk mantan menteri Emil Salim, negarawan Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir, wartawati pertama In donesia yaitu Rohana Kudus, seniman terkemuka Hamid Jabar, Oesman Effendi, serta sejumlah besar duta besar pada masa orde lama dan orde baru.

Sejarah intelektualitas Koto Gadang dimulai setelah terjadinya kampanye militer oleh pemerintah Belanda selama tahun 1821-1838. Saat itu ada pemuda asal Koto Gadang yaitu Abdul Gani Rajo Mangkuto, yang sadar bahwa Belanda hanya bisa dikalahkan melalui pendidikan, sehingga beliau bertekad untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Belanda. Karena ketekunannya belajar baca tulis, akhirnya beliau berhasil diangkat sebagai juru tulis pada perusahaan kopi Belanda, dan karena cakap bernegosiasi, Belanda mengangkatnya sebagai agen utama untuk membeli hasil bumi dari masyarakat untuk kemudian dijual kepada Belanda, sehingga Abdul Gani akhirnya menjadi konglomerat terkaya di Sumatra Barat saat itu.

Ketika Belanda mendirikan Sekolah Rajo di Bukittinggi, Abdul Gani membelikan bangku-bangku sekolah sehingga sebagian besar anak-anak Koto Gadang dapat bersekolah di sana. Sejak itulah warga Koto Gadang terbiasa dengan iklim intelektualitas sehingga kesadaran baca-tulis warganya sangat tinggi, bahkan pada tahun 1916, orang-orang Koto Gadang sudah mampu membuat penerbitan majalah Berita Koto Gadang, membangun perpustakaan dan sekolah-sekolah.

Saat ini majalah ini masih terbit dengan nama Canang. Tradisi membaca, menulis dan berdiskusi ini masih hidup subur hingga kini, walaupun setelah pemberontakan PRRI banyak penduduk Koto Gadang yang keluar pindah ke daerah-daerah lainnya. Penduduk asli Koto Gadang yang masih tinggal di kampung mereka hanya tinggal enam persen, sisanya merantau. Sebagian besar adalah perantau di bidang intelektual, bukan pedagang, namun kebanyakan menjadi pegawai, negeri ataupun swasta, dokter, dosen ataupun guru. Walau ditinggal pergi, warga sepakat tidak akan menjual tanahnya, hanya menyewakannya atau mengerjakannya dengan sistem bagi hasil.

Para penduduk Kota Gadang masih tetap berusaha menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi walupun mutu sekolah jaman ini kalah jauh dibandingkan pada masa lalu. Bangunan-bangunan yang ada di sini dibangun dengan gaya-gaya yang berbeda-beda, ada yang berbentuk rumah adat, yaitu rumah bagonjong berukir indah beratap lengkung, ada yang bergaya Art Deco, ada pula yang merupakan gaya campuran atau ekletik. Namun suasana intelektual masih tetap hidup, terutama diskusi mengenai masalah-masalah aktual yang sedang terjadi saat ini.

Informasi di Batusangkar

Raja-Raja Pagarruyung adalah keturunan Adityawarman, Raja Minangkabau yang paling terkenal, yang meninggalkan banyak prasasti tertulis. Raja ini diwujudkan dalam bentuk arca Bhairawa yang kini disimpan di Museum Nasional Gedung Gajah di Jakarta, dulu ditemukan di daerah Sawah Lunto, Sumatra Barat. Adityawarman juga dianggap menurunkan raja-raja Siliwangi di Jawa Barat dan para bangsawan di Bali, yaitu soroh Arya Damar.

Hubungan erat antara Jawa dan Sumatra ini berawal dari ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Raja Singasari Kertanegara pada tahun 1286. Dalam penyerangan ini Singasari dapat menaklukkan negara Melayu sehingga sebagai tanda takluk, Raja Melayu Muliawarman mengirim anaknya Adityawarman untuk mengabdi dan belajar di Singasari. Di kemudian harinya, saat Singasari runtuh dan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, beliau mengirimkan kedua putrinya untuk dipersunting oleh Raden Wijaya, yaitu Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak kemudian melahirkan Jayanegara yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit.

Adityawarman ikut dalam setiap penyerangan Majapahit untuk menaklukkan seluruh Nusantara bersama Mahapatih Gajah Mada, termasuk dalam menyerang Bali pada tahun 1334. Di Bali beliau dikenal dengan nama Arya Damar, yang kemudian menurunkan sekelompok bangsawan Bali. Setelah dirasa memiliki cukup pengalaman dan pengetahuan, Adityawarman kemudian pulang ke Sumatra untuk membangun daerah asalnya. Beliau memilih membangun pusat pemerintahan baru yang jauh dari pengaruh Jawa, di daerah Sumatra Barat atau Minangkabau, dan kemudian menurunkan raja-raja Pagarruyung.

Istana Baso Pagarruyung terletak di lembah bukit Batu Patah, sekitar lima kilometre dari kota Batusangkar. Istana yang ada sekarang adalah replika atau tiruan atas istana asli raja-raja Pagarruyung yang dulu terbakar pada tahun 1804 akibat terjadinya huru-hara pada jaman Belanda, dan dibangun kembali atas prakarsa Gubernur Sumatra Barat Harun Zain pada tahun 1976 di atas tanah milik para pewaris takhta Pagarruyung.

Istana Baso Pagarruyung ini berbentuk menyerupai rumah adat Minang atau Rumah Gadang, atau rumah pusaka yang dimiliki hampir oleh semua keluarga Minang terkemuka yang ada di Sumatra Barat. Seluruh bagian bangunan bertingkat tiga ini terbuat dari kayu beratap ijuk namun kayu-kayunya dibuat miring sebagai konstruksi tahan gempa, kecuali kayu yang ada di tengah-tengah bangunan, tempat terletaknya takhta raja. Ada sembilan tiang di dalam istana, dan jarak antar tiang diukur dengan lompatan kuda karena pada masa itu belum ada alat ukur. Dinding bagian depannya dihias dengan ukir-ukiran khas Minang dengan warna merah dominan. Bagian dalam bangunan diperindah dengan kain-kain bersulamkan benang emas.

Lantai dasar istana digunakan untuk menunaikan tugas-tugas Raja Alam, yaitu tempat singgasana raja, ruangan rapat sebagai tempat berdiskusi raja dengan para pembantunya, tempat peraduan raja dengan permaisurinya serta kamar tidur orang tua raja. Di bagian depan sebelah kanan terletak kamar tidur raja dengan permaisuri. Hanya bila permaisuri kebetulan sedang datang bulan dan raja ingin memadu kasih, kedudukannya bisa digantikan oleh istri lainnya atau raja bisa pindah untuk sementara di kamar istri lainnya untuk memadu cinta. Bila lahir putri-putri raja, sesuai adat Minang yang matrilineal yaitu dari garis ibu, maka para putri ini akan ditempatkan di tingkat dua. Tingkat dua ini dinamakan Anjuang Paranginan, tempat para putri raja mempelajari berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan bila kelak berumah tangga. Sekarang benda pusaka disimpan di lantai dua tidak seberapa jumlahnya, berupa keramik-keramik kuno dari Cina. Sebagian besar disimpan di museum-museum di Negeri Belanda. Bila lahir anak laki-laki, sejak kecil mereka ditempatkan di luar istana, di surau-surau untuk belajar mengaji. Jendela-jendela yang ada di istana dibuat besar-besar sehingga udara sejuk.

Di lantai tiga ada ruangan kecil yang namanya Mahligai sebagai perlambang raja adalah pemegang keputusan tertinggi dan juga digunakan untuk bersemadi dan untuk mengadakan rapat rahasia. Pemandangan atas Istana Baso dan Bukit Patah di belakangnya terlihat begitu indah sebelum turunnya kabut jam 10 pagi, sehingga lebih baik kita berkunjung pada pagi hari ke sini. Raja Pagarruyung saat ini bergelar Yang Dipertuan Pewaris Takhta Istana Pagarruyung, Sultan Taufik Thaib.

Para pengunjung juga diberikan kesempatan mengabadikan kunjungannya di Istana Baso ini dengan membuat foto dengan memakai pakaian kebesaran raja-raja Pagarruyung dan permaisurinya lengkap dengan Suntiangnya yang berat, bergambar di atas takhta kerajaan, dengan biaya sekitar 50.000 Rupiah per orang.

Informasi di Danau Singkarak

Danau Singkarak meliputi dua kabupaten di Sumatra Barat yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Dengan luas permukaan 107,8 km2, danau ini hanya kalah luas oleh Danau Toba di Sumatra Utara. Sungai Batang Ombilin berasal dari danau ini, yang memungkinkan dibangunnya pusat listrik tenaga air (PLTA) Singkarak di Lubuk Alung, Padang Pariaman. Salah satu ikan endemis yang hanya ada di danau ini adalah Ikan Bilih atau Mystacoleucus Padangensis yang menjadi hidangan khas masyarakat di sekitar danau.

Obyek-obyek wisata yang ada di dalam kota dan di dekat Kota Bukittinggi
antara lain:

-Pasar Atas:
Pasar Atas terletak dekat Jam Gadang. Pasar ini adalah tempat untuk membeli oleh-oleh berupa pakaian bordir, makanan-makanan kecil khas Minang seperti keripik Sanjai yang terbuat dari singkong, serta kerupuk Jangek (kerupuk kulit) yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau, serta Karak Kaliang, makanan khas Bukittinggi yang berbentuk angka 8.

Di sini kita juga bisa mencicipi Gulai Nasi Kapau yang paling enak yaitu Nasi Kapau Uni Lis. Nasi Kapau adalah nasi panas dengan disirami gulai dan disertai beragam lauk-pauk, ada gulai ikan, dendeng kariang, gulai tunjang, kalio hati, gulai ayam, rendang ayam, ayam bumbu, ayam goreng balado, atau gulai usus sapi. Bahkan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi pun pernah mencoba nikmatnya masakan Nasi Kapau Uni Lis ini.

Nasi Kapau Uni Lis yang terletak di Kompleks Pasar Atas Blok A/B Lantai I ini berdiri sejak tahun 1972, dirintis oleh neneknya Uni Lis. Buka sejak jam 08.00 sampai jam 5 sore. Beras yang dipakai adalah beras kualitas nomor satu, dan dalam harga sudah termasuk goreng rimbang, daun bawang, gulai rebung, kacang rendang, gulai daun lobak dan gulai nangka muda. Untuk menemani makan dihidangkan juga Ampiang Dadiah semacam Yogurt hasil fermentasi susu kerbau yang rasanya enak sekali namun agak asam, seputih salju selunak susu dan seawet keju. Susu kerbau ini diawetkan beberapa hari di dalam buluh bambu hingga menggumpal dan terasa asam.

-Jam Gadang:
Jam Gadang yang merupakan landmark atau ciri khas Kota Bukittinggi ini dibangun oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh pada tahun 1926. Jam Gadangnya sendiri adalah hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur atau Sekretaris Kota. Pada jaman Belanda, jam ini berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya, sedangkan pada jaman Jepang bentuknya seperti Kelenteng. Pada jaman kemerdekaan, bentuknya diubah lagi menyerupai rumah adat Minang.

Garis tengah Jam Gadang ini adalah 80 cm dengan tinggi 26 meter, dasarnya berukuran 13×4 meter. Pembangunannya menghabiskan uang 3.000 Gulden. Penulisan angkanya agak unik sebab angka 4 tidak ditulis IV, namun IIII.

-Taman Bundo Kanduang:
Di taman ini terdapat tiruan rumah gadang yang berfungsi sebagai Museum Kebudayaan Minangkabau, ada juga sebuah kebun binatang dan Benteng Fort de Kock yang dihubungkan oleh sebuah jembatan penyeberangan yang dinamakan Jembatan Limpapeh.

-Lembah Ngarai Sianok:
Keindahan Ngarai Sianok bisa dilihat dengan jelas dari Taman Panorama, yang juga memiliki daya tarik lain, misalnya Goa Jepang, yaitu gua-gua bekas tempat persembunyian tentara Jepang selama Perang Dunia II.

Pada tahun 2004 jumlah penduduk Bukittinggi mencapai 100.254 jiwa dengan kerapatan 3.970 jiwa per kilometer persegi.

Informasi tentang Koto Gadang:

Kota Koto Gadang terkenal dengan Gulai Itiaknya, di samping oleh kerajinan peraknya. Rumah makan yang paling terkenal di sini adalah Rumah Makan Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai. Masakan khasnya adalah Gulai Itik dengan balutan cabai hijau. Untuk meredam rasa pedas, dihidangkan juga acar mentimun. Piring-piring kecil berisikan Gulai Bihia (sop pedas khas Padang berisi lemak dan daging sapi) juga dihidangkan dengan dendeng sapi Balado.

Informasi tentang Danau Maninjau

Danau Maninjau memiliki panjang 17 km dan lebarnya 8 km dengan kedalaman 480 meter. Kelok Ampek-Ampek (44) terkenal sebagai jalan berliku-liku paling sulit dilalui se-Sumatra, ada dekat danau ini, yang pada tahun 1825-an menjadi tempat pertemuan paling bersejarah antara Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Informasi tentang Palupuh

Di Desa Palupuh tumbuh bunga Raflessia Arnoldi yang mekar selama seminggu dalam siklus selama 18 bulan. Rafflessia adalah tumbuhan parasit yang tumbuh pada tanaman induk Tetrastigma Sp. Garis tengah bunga ini mencapai lebih dari 100cm, ditemukan pertama kali pada tahun 1818 oleh Joseph Arnoldi.

(Dirangkum oleh Andres I Wayan Suyadnya dari berbagai sumber)