Ogoh-ogoh dan Hari Raya Nyepi

Ogoh – Ogoh, Patung Besar Untuk Menyambut Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka
Tahun Baru Penanggalan Saka di Bali yang disebut Hari Raya Nyepi atau “sipeng” adalah salah satu dari dua hari raya paling besar bagi orang-orang Bali  setiap tahunnya. Hari raya lainnya adalah Hari Raya Galungan, yang datang setiap 210 hari sekali menurut Penanggalan Pawukon. Untuk tahun 2011, Hari Raya Nyepi jatuh pada hari Sabtu tanggal 5 Maret 2011. Orang-orang Bali menyambut Hari Raya Nyepi dengan penuh antusiasme. Mereka mulai membuat Patung Besar Ogoh-Ogoh jauh-jauh hari sebelum Hari Raya Nyepi di Bale Banjar. Setiap malamnya kaum muda sibuk menyelesaikan pembuatan Ogoh-Ogoh. Ada banjar yang hanya membuat satu Ogoh-Ogoh, namun ada banyak yang membuat dua atau tiga Ogoh-Ogoh. Biaya pembuatan Ogoh-Ogoh diperoleh melalui sumbangan sukarela warga banjar dan juga mereka-mereka yang membuka usaha di lingkungan banjar tersebut. Rangka Ogoh-Ogoh biasanya dibuat dari bambu, kayu atau besi ringan, dijejali dengan kertas dan gabus, lalu dicat dan dihias. Biasanya Ogoh-Ogoh tersebut menggambarkan perwujudan Butha dan Kala, namun bisa juga melukiskan adegan dari kisah kepahlawanan seperti Mahabarata, Ramayana, Sutasoma, dan sebagainya. Akhir-akhir ini Ogoh-Ogoh juga sering menggambarkan para penyanyi rock atau kritik terhadap para tokoh, seperti Gayus Tambunan.

Tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi disebut hari Melasti atau Mekiis atau Melis, di mana seluruh masyarakat Bali beserta keluarga mereka dengan mengenakan pakaian mereka yang paling indah, dengan membawa sesajen di atas kepala ataupun dengan membawa musik gamelan di bahu atau di tangan mereka pergi bersama-sama menuju pantai, tepi danau ataupun sumber-sumber mata air. Tujuan upacara Melasti adalah untuk membersihkan semua kotoran dari dunia dan sekaligus memohonkan Tirtha Amertha dari tengah laut (nganyudang malaning gumi lan ngamit Tirtha Amerta). Umat membawa berbagai pratima (perlambang dewa atau leluhur) dari pura asal mereka masing-masing ke tepi laut. Mereka akan berdoa memohon Tirtha Amertha dan bersyukur kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) atas segala karunianya. Setelah itu mereka makan siang dan kemudian kembali ke desa masing-masing dalam perarakan yang indah. Jika desa asal mereka cukup jauh, banyak yang naik kendaraan bermotor untuk kembali ke rumah. Pada malam hari sebagian besar penduduk akan berjaga di pura (mekemit).

Dua hari sesudahnya dikenal sebagai hari Pengerupukan atau hari Penogtogan di mana Boneka Ogoh-Ogoh akan diarak keliling desa disertai pawai obor dan musik tradisional Baleganjur yang hingar bingar melewati jalan-jalan utama desa yang tujuannya adalah untuk secara simbolis mengusir para Butha dan Kala ke luar dari wilayah desa. Pada setiap perempatan utama desa (catus pata) umat mengadakan upacara korban pecaruan dengan tujuan untuk meruwat (nyomya) “Bhuta” dan “Kala” sehingga kembali berwujud dewa dan tidak akan mengganggu kita lagi. Sebagian besar Ogoh-Ogoh akan dibakar setelah perarakan ini, kecuali yang bagus-bagus sehingga memenangkan hadiah akan disimpan sampai tahun depannya lagi pada Pengerupukan atau Penogtogan yang akan datang. Praktis hampir semua jalan di Bali ditutup untuk pawai Ogoh-Ogoh ini sejak tengah hari sampai sekitar jam 2100 malam. Jadi rencanakan perjalanan anda dengan baik pada hari ini supaya tidak terjebak macet terutama bila anda harus mengejar pesawat. Ingatlah bahwa hari berikutnya tidak ada pesawat ke dan dari Bali sebab sudah berada dalam suasana Hari Raya “Nyepi.”

Pada Hari Raya Nyepi umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu amati geni, tidak boleh menyalakan api, amati karya, tidak boleh bekerja, amati lelungan atau tidak boleh bepergian, dan amati lelanguan atau tidak boleh mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang. Jalan-jalan kosong pada hari ini sebab tidak ada mobil yang melintas (kecuali mereka yang sakit keras atau wanita yang akan melahirkan mendapat ijin khusus untuk melintas naik motor atau mobil), tidak ada pesawat, tidak juga ada ferry ataupun kapal di atau di sekeliling Pulau Bali hari ini. Ini adalah waktu untuk refleksi diri atau mulat sarira bagi umat Hindu di Bali, yaitu waktu untuk merenungi apa hal-hal positif dan negatif yang sudah kita lakukan selama satu tahun yang lalu, dan apa rencana kita pada tahun mendatang ini agar kita bisa memperbaiki diri secara lahiriah dan batiniah. Waktu yang tersisa dipergunakan untuk berkumpul bersama sanak keluarga, teman-teman dan para tetangga. “Sipeng” ini dimulai jam 06.00 pagi dan berakhir pada jam 06.00 pagi hari berikutnya melalui suara kentongan (kulkul) banjar. Malam Nyepi adalah bulan mati (tilem) yang paling gelap dalam setahun, apalagi tanpa ada cahaya listrik setitikpun.
Hari berikutnya setelah Hari Raya Nyepi disebut Hari Ngembak Geni saat untuk saling bersilaturahi antar teman atau keluarga atau untuk berwisata bersama keluarga atau teman dekat ke obyek-obyek wisata. Hari berikutnya adalah hari sekolah dan hari kerja seperti biasanya. Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1933! Swasti Wanti Warsa Isaka 1933!