Indonesia
Beberapa Informasi Penting Tentang Pulau Bali
RAHAJENG RAUH – SELAMAT DATANG
Sambutan Yang Paling Hangat Bagi Anda di Pulau DEWATA
“Maka Bagawan Sidimantra pun menghantar anaknya yang bengal itu, Manik Angkeran, menuju Bali, yang saat itu masih bersambung dengan Pulau Jawa oleh tanah genting yang sempit. Anak itu disuruhnya pergi menuju Gunung Agung (Giri Tohlangkir) dan ketika dia sudah hilang dari pandangannya, Sang Bagawan membuat garis dengan jarinya di tanah genting itu, yang kemudian dimasuki air laut dan Bali akhirnya menjadi sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa oleh Selat Bali……” (Kutipan dari sebuah dongeng rakyat).
Geografi:
Kata “Bali” sendiri sebenarnya berarti “persembahan” atau “sesajen” dalam Bahasa Bali kuno.Hal ini mengingatkan kita pada kebiasaan masyarakat Hindu yang ada di Bali, yang setiap hari selalu menghaturkan sesajen kepada Tuhan supaya mereka selalu sehat, selamat dan sejahtera.
Pulau Bali adalah sebuah pulau kecil, yang luasnya hanya 5.632 km persegi, dengan
bentuk menyerupai seekor induk ayam dengan tiga telurnya. Lebar Pulau Bali dari kota paling utara (Singaraja) sampai di kota paling selatan (Nusa Dua) sekitar 95 kilometer. Kelihatan dekat, namun kalau ditempuh dengan mobil lamanya sekitar 3 jam karena melewati daerah pegunungan yaitu di Bedugul atau Kintamani yang jalannya berliku-liku. Antara Gilimanuk (titik paling barat) dengan Desa Seraya (titik paling timur) jaraknya sekitar 145 kilometer.
Bali memiliki banyak gunung (di antaranya: Gunung Klatakan, Pohen, Batukaru, Abang, Seraya, dll), dua di antaranya yaitu Gunung Agung (3142 meter) dan Gunung Batur (1717 meter) masih aktif. Gunung Batur adalah gunung berapi yang sangat aktif, letusan terakhirnya terjadi pada tahun 1974. Gunung Agung meletus pada tanggal 18 Februari 1963 menimbulkan korban tewas sekitar 1.500 jiwa. Terdapat empat buah danau alam, yaitu Danau Batur (luasnya 16 km2; dalam 70 meter), Danau Bratan (luasnya 3.85 km2; dalamnya 20 meter), Danau Buyan (luasnya 3.67 km2; dalamnya 69 meter) dan Danau Tamblingan (luasnya 1.15 km2; dalamnya 40 meter), serta dua buah danau buatan yaitu Dam Palasari di Bali Barat dan Embung Telaga Tunjung di Tabanan.
Sebagaimana daerah-daerah lainnya di Indonesia, Bali mengenal musim hujan (dari bulan Oktober sampai Maret) dan musim kemarau (April sampai September). Pada musim hujan, udara rasanya lebih panas karena kelembaban udara yang tinggi. Sementara pada musim kemarau, lebih-lebih pada malam dan pagi harinya udara terasa sangat sejuk. Pada daerah-daerah dataran tinggi dan pegunungan, musim kemarau hanya berlangsung tiga bulan saja, sehingga cuaca hampir selalu mendung dan berkabut dan sering turun hujan.
Demografi:
Pada tahun 2010 penduduk Pulau Bali berjumlah sekitar 3.700.000 jiwa, dengan persentase pemeluk agama Hindu berjumlah 91 %. Penduduk lainnya umumnya berasal dari daerah-daerah Jawa dan Madura, Lombok, Flores, Timor, Minang, dan Batak. Di daerah-daerah perkotaan, terdapat juga Kampung Jawa, Kampung Arab dan penduduk keturunan Cina yang umumnya berdagang. Sekitar 7% penduduk Bali beragama Islam, banyak di antaranya sudah berdiam di Bali turun temurun sehingga banyak yang berkomunikasi memakai Bahasa Bali, bahkan ada yang menggunakan nama-nama Bali. Kampung-kampung Islam yang terkenal antara lain: Loloan (di Jembrana), Pegayaman, Kampung Jawa, Kampung Bugis, Yeh Bau (Buleleng), Candikuning (Tabanan), Kecicang (Karangasem), Gelgel dan Kusamba (Klungkung), Kampung Jawa, Kepaon dan Serangan (Badung).
Sekitar 0.9% penduduk Bali beragama Kristen (0.5% Protestan dan 0.4% Katolik). Gereja Protestan yang terpenting adalah Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) yang dipimpin oleh Bishop Bapak I Wayan Mastra. Sedangkan umat Kristen Katolik berada di bawah pimpinan Uskup Mgr. Silvester San Pr, Uskup Denpasar (Bali-Lombok-Sumbawa). Sebagian besar umat Kristen tinggal di desa-desa Dalung, Abianbase dan Babakan (Badung). Pada tahun 1936 banyak di antaranya yang pindah ke Belimbingsari (Protestan) dan Palasari (Katolik) di Jembrana, Bali Barat. Sebagian besar umat Buddha yang jumlahnya 0.6% dari penduduk Bali, berdiam di perkotaan. Di beberapa tempat terdapat wihara-wihara Buddha, misalnya di: Tanjung Benoa, Kuta (Badung), Denpasar, Baturiti dan Pupuan (Tabanan), Banjar (Buleleng), Amlapura (Karangasem), Klungkung dan Blahbatuh (Gianyar). Orang-orang Bali sejak dulu hingga kini sangat toleran terhadap saudara-saudaranya yang memiliki keyakinan keagamaan yang berbeda, sehingga mereka dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai.
Sejarah Bali Secara Singkat:
Tahun 914 TM (Tarikh Masehi): Bali memasuki masa sejarah dengan ditemukannya batu bertulis di dalam Pura Desa Belanjong, Sanur. Tulisan tersebut mengisahkan kemenangan Raja Sri Kesari Warmadewa (beliau diyakini sebagai tokoh yang membangun Pura Merajan Selonding di Pura Besakih) atas musuh-musuhnya dari Gurun dan Suwal. Raja-raja berikutnya sebagian besar adalah keturunan beliau (termasuk Raja Udayana atau Dharmodayana Warmmadewa).
Pada tahun 991TM Airlangga lahir. Beliau adalah putera Raja Bali Dharmodayana Warmmadewa, juga dikenal sebagai Udayana, dan permaisurinya dari Jawa, Gunapriyadharmapatni, juga disebut Mahendradatta (putri Raja Makutawangsawardhana). Pada usia muda Airlangga dikirim ke istana pamannya, Raja Jawa (Raja Dharmawangsa), untuk belajar dan akhirnya menikah. Ketika kerajaan hancur oleh perang saudara, para pemenang mengundang Airlangga untuk mengambil alih takhta pamannya yang sudah mangkat.
Airlangga berusaha keras membangun kembali kerajaannya. Ia bahkan menggabungkan pulau Bali, pulau kelahirannya, menjadi bagian kerajaannya dan memerintah pulau Bali melalui tangan adiknya sendiri, Marakata dan kemudian adik bungsunya Anak Wungsu. Dengan demikian Airlangga memperkuat hubungan budaya dan politik antara Jawa dan Bali yang terus berlanjut, dan dengan demikian sangat menguntungkan Bali, selama lebih dari tiga abad. Bagaimanapun hubungan antara Jawa dan Bali tidaklah selalu mulus. Orang-orang Bali seringkali memberontak, membebaskan diri dari kekuasaan raja-raja Jawa. Orang-orang Jawa, mula-mula Raja Kertanegara dari Singasari (1262 TM) dan kemudian para bangsawan Majapahit berkali-kali menyerang Bali untuk menanamkan kekuasaannya lagi. Raja Kertanegara dari Singasari menyerang Bali dua kali pada tahun 1262 dan 1284 untuk menaklukkan Bali. Di kemudian hari, Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit menyerang Bali pada tahun 1343 TM dan membunuh Raja Bali Aga terakhir dari Dinasti Pejeng yaitu Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten atau Raja Tapolung atau Dalem Bedahulu (Bedulu).
Sejak saat itu Bali menjadi sebuah propinsi yang tunduk pada penguasa pusat di Majapahit, Jawa Timur. Para penguasa Majapahit mengangkat Kresna Kepakisan, seorang brahmana keturunan Kediri (juga keturunan Airlangga!) untuk memerintah Bali. Kepakisan mendirikan dinasti yang menurunkan raja-raja Bali, yang bertindak lebih sebagai pendukung ketimbang sebagai bawahan Majapahit. Dia dan para raja keturunannya sering menggunakan gelar Jawa Susuhunan yang berarti Maharaja. Walaupun banyak juga yang menggunakan gelar asli Bali seperti Dewa Agung, atau Tuhan Yang Agung, sehingga menyiratkan arti bahwa mereka memerintah secara bebas merdeka atas perintah para Dewa. Kepakisan membangun puri (istana)-nya di Samprangan, di sebelah timur Kota Gianyar sekarang dan memerintah dengan keras namun adil atas seluruh Pulau Bali. Keturunannya kemudian memindahkan ibu kota ke Gelgel, di sebelah selatan Kota (Semarapura) Klungkung sekarang.
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1515TM. muncullah Kerajaan Islam Demak, Pajang dan Mataram yang giat menyebarkan pengaruh Islam. Ribuan bangsawan, imam, serdadu, seniman, pengrajin dan rakyat yang menolak masuk Islam kabur dari Jawa ke Bali. Sebagian mengungsi ke pegunungan Bromo-Tengger di Jawa Timur. Di Bali mereka membawa pengaruh baru dalam tatanan sosial, bahasa, agama, budaya dan kesenian, sehingga seolah-olah agama Hindu yang sudah kuat berakar di Bali dan kesenian Bali makin berkembang menjadi jauh lebih kaya.
Pada abad keenam belas Bali memasuki permulaan jaman keemasan. Batu Renggong (Waturenggong), yang menggunakan gelar Dewa Agung pada tahun 1550 TM, mempersatukan daerah-daerah Bali menjadi satu negara kesatuan yang kuat. Beliau menaklukkan Blambangan dan menunjuk raja bawahan di sana. Beliau juga menundukkan pulau-pulau tetangga Bali seperti Sumbawa dan Lombok. Pada tahun 1639, pengganti Batu Renggong yaitu Dalem Di Made atau Dalem Bekung gagal menundukkan Blambangan (yang memberontak) sehingga beliau kehilangan rasa hormat dan kesetiaan para pangeran lainnya di Bali karena akhirnya Blambangan, Lombok dan Sumbawa lepas dari pengaruh Bali (di kemudian harinya Raja Panji Sakti dari Buleleng menaklukkan Blambangan lagi; sedangkan Raja Karangasem menundukkan Pulau Lombok). Salah seorang patihnya, Gusti Sidemen, mengatakan bahwa istana di Gelgel kena kutukan dan mendesak untuk memindahkan ibukota ke Klungkung pada tahun 1686. Pendirian Puri Semara Pura di Klungkung menandai berakhirnya masa keemasan Bali. Klungkung masih menjadi pusat budaya dan agama, namun tidak dalam bidang politik. Klungkung tidak pernah berhasil menyamai Gelgel dalam kebesaran. Dewa Agung dan istananya di Klungkung masih melambangkan keagungan maharaja Hindu namun bukan sebagai penguasa politik lagi. Pada masa itu Bali lebih menyerupai negara serikat (federasi). Raja-raja bawahan di seluruh Bali masih menganggap Dewa Agung di Klungkung sebagai Sasuhunan mereka, namun secara politis Dewa Agung tidak lagi memiliki kekuasaan apa-apa di wilayah yang mereka kuasai. Hal ini tetap berlangsung sampai akhir abad XIX saat tentara Belanda menundukkan Bali Utara (Buleleng) pada tahun 1849 TM dan kemudian juga Bali Selatan (Badung, Tabanan, Klungkung) masing-masing pada tahun 1906, 1907 dan 1908.
Selama Perang Dunia II (1942), tentara kemaharajaan Jepang menundukkan seluruh Indonesia, termasuk Bali. Pemerintah Belanda menyerah tanpa syarat dan mendirikan Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (NICA) dalam pengasingan di Australia. Namun tiga setengah tahun kemudian, Angkatan Udara Amerika Serikat menghancurkan kota-kota Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom sehingga Kaisar Jepang, Hirohito, mengumumkan bahwa Jepang menyerah kepada tentara sekutu. Para pemimpin bangsa Indonesia yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta menggunakan kekosongan kekuasaan ini untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Dan sejak itu Bali merdeka sebagai sebuah propinsi dalam negara Republik Indonesia. Mula-mula Singaraja menjadi ibukota Propinsi Sunda Kecil (meliputi seluruh Nusa Tenggara: Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Solor, Alor, Rote, Sabu, Komodo dan pulau-pulau lainnya) dan saat Propinsi Sunda Kecil dipecah tiga menjadi Bali, NTB dan NTT, Singaraja tetap menjadi ibukota Bali sampai tahun 1958, saat ibukota dipindahkan ke Denpasar. Sekarang, Propinsi Bali adalah salah satu dari 33 propinsi yang ada di Indonesia, terkecil dalam wilayah, namun salah satu yang paling makmur.
Para gubernur Bali sejak 1945 sampai 2013:
I Gusti Ketut Puja 1945-1950
Anak Agung Bagus Suteja 1950-1958
I Gusti Bagus Oka 1958-1959
Anak Agung Bagus Suteja 1959-1965
I Gusti Putu Mertha 1965-1967
S o e k a r m e n 1967-1978
Ida Bagus Mantra 1978-1988
Ida Bagus Oka 1988-1998
I Dewa Made Berata 1998-2008
I Made Mangku Pastika 2008-2013